Menikmati Berkhidmat pada Suami

Menikmati Berkhidmat pada Suami

Oleh: Kholda Najiyah

Founder Salehah Institute

Alhamdulillah ucapan terima kasih pada Cinta Quran khususnya Cinta Quran TV yang sudah bersedia memfasilitasi acara Kajian Bengkel Istri, semoga menambah amal jariyahnya Cinta Quran yang selalu terdepan membersamai teman-teman berhijrah.

Termasuk kita ingin hijrah menjadi istri yang lebih salehah. Terima kasih juga untuk Ummu Sajjad yang di tengah kesibukannya, masih bersedia kita mintai ilmu dan tips-tipsnya dalam rumah tangga.

Apresiasi dan terima kasih buat teman-teman peserta yang memilih berakhir pekan di ruang Zoom ini, juga yang menyimak di Youtube Channel Cinta Quran TV.

Sebagai seorang istri, seharusnya kita menikmati peran membersamai suami. Tapi nyatanya, kita ini wanita biasa, yang kadang lupa untuk merasakan kenikmatan itu, mana kala ada ujian rumah tangga dan masalah-masalah yang mengganggu pikiran kita.

Akhirnya, lupa cara menikmati peran sebagai istri, bahkan merasa banyak beban di pundak. Apalagi kalau sudah menjadi ibu, nikmat menjadi istri, jadi tergerus, kalah oleh kenikmatan kita menjadi ibu. Kadang kita lebih fokus menjalankan peran sebagai ibu, membersamai anak-anak, jadi lupa membersamai suami. 

Tanpa mengecilkan peran keibuan, jangan lupakan pula untuk menjalankan peran istri secara maksimal. Sebab, banyak nash dan hadits yang berbicara tentang peran istri, tentang kewajiban taat dan berkhidmat pada suami.

Rasulullah bersabda:

“Bila seorang istri mengeraskan suara di atas suara suaminya (membentak), maka semua perkara yang terkena sinar matahari akan melaknatinya, kecuali ia bertobat.”

Sabda beliau yang lain: “Bila seorang istri cemberut di depan suaminya, maka besok pada hari kiamat wajahnya menjadi hitam, kecuali dia bertobat,”

Sahabat Zubair bin Awwam ra berkata: “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Siapa saja wanita yang terus menerus menyakitkan hati suaminya, sehingga dia menalaknya, maka tetaplah siksa Allah Swt padanya.”

Sahabat Ubaidah Al-Jarrah ra berkata, saya mendengar Rasulullah Saw berkata: “Siapa saja wanita yag membuat marah suaminya, sedangkan dia sendiri zalim atau marah kepada suaminya, maka Allah Swt tidak akan menerima ibadah fardu dan sunah daripadanya.”

Tentu hadits-hadits tersebut tidak untuk “menakut-nakuti” kaum wanita. Karena, meski sudah tahu, terkadang tetep saja faktanya banyak wanita yang sulit dinasihati. Terkadang tetap merasa lebih sakit saat hidup di dunia daripada mengkhawatirkan siksa neraka. Na’udzubillahi mindzalik.

Oleh karena itu kita harus membuka diri dengan ilmu dan banyak nasihat, bagaimana agar bisa menjadi istri yang senantiasa rida terhadap suami, rida berbakti dan berkhidmat kepadanya. Memang, dalam keadaan suami baik, mudah untuk tunduk dan taat pada beliau.

Misal suami memiliki banyak kelebihan-kelebihan,  baik dari sisi kedudukan, jabatan, harta atau kesalehan, insyaallah mudah untuk taat dan berkhidmat pada suami. Nah, masalahnya, kalau suami belum ideal di mata istri, bahkan tampak segala keburukannya,  tentu sulit untuk berkhidmat.

Ada istri yang kesal karena suaminya terus menerus berutang, sudah dinasihati istri agar tidak berutang, masih terus utang, akhirnya istri tidak taat. Ada istri yang enggan melayani suami, karena suami salatnya belum benar. Ada suami yang tak mau terlibat pendidikan anak, eh, istri mengurangi rasa hormat dan pelayanannya pada suami.

Nah, lantas bagaimana cara kita tetap bisa taat dan berkhidmat pada suami dalam keadaan apapun? Co-Founder Cinta Quran Ummu Sajjad memberikan kiat-kiatnya.

Pertama, masalah yang dihadapi suami istri yang membuat hubungan renggang, terjadi karena kurangnya komunikasi.  Tak peduli berapapun usia pernikahan, obrolan harus terus dibangun. Bicarakan hal remeh sampai hal penting di momen pillow talk.

Kedua, hubungan pasutri harus dilandasi saling percaya. Misal, jika suami menyerahkan uang belanja, percayakan sepenuhnya pada istri untuk mengaturnya tanpa perlu ada rasa curiga. Istri melihat HP suami, suami melihat HP istri, biasa saja. Jangan saling mengunci rahasia. Jika masih ada rahasia, tentu tidak akan terbentuk hubungan suami istri yang satu jiwa.

Ketiga, fresh kembali cinta di antara berdua. Keinginan romantisme harus selalu ada. Setiap manusia, baik suami maupun istri, merindukan masa-masa ingin disayang, ingin diperhatikan, ingin tetap honeymoon. Jangan sampai dua-duanya sama-sama merasa pasangannya sudah gak asyik lagi, akhirnya mencari keasyikan di luar.

Adapun kunci utama untuk membangun rumah tangga satu visi satu misi adalah ngaji. Ilmu adalah cahaya, yang akan mengubah mindset kita. Mengubah mindset kita terhadap hidup, mengubah mindset kita terhadap suami, anak, mertua dll. Ketika kita sudah lebih tahu, ketika sudah berilmu, tunjukkan adab yang baik pada pasangan.

Terakhir, jangan lupa berdoa. Mintalah kepada Yang Maha Memiliki Hati. Mintalah pada Allah, minta tolong agar Allah melembutkan hati suami. Jangan lupa, resep rumah tangga bahagia menurut Islam adalah jadilah baik karena Allah Swt. Jangan berubah karena makhluk, jangan supaya suami berubah, supaya anak berubah, tapi benar-benar karena Allah semata.

Berubahlah karena Allah, bukan karena manusia. Berubah bukan supaya suami berubah, bukan supaya anak berubah, tetapi benar-benar karena Allah semata.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *